Canggung

sad-man

Beberapa kali saya berhenti di tengah jalan saat memanjatkan permohonan di pagi hari. Ada perasaan canggung, lebih ke rasa bersalah, untuk memohon permintaan pribadi. Beberapa kali permintaan saya dikabulkan, dan beberapa kali juga saya mengecewakan si Pemberi.

Beberapa kali saya ingkar janji. Saya pernah bilang pada Tuhan, jika Tuhan memberikan satu hal ini, saya nggak akan minta lagi. Saya akan jaga baik-baik. Nyatanya? Saya ingkar. Untung saya nggak dijitak sama Tuhan.

Manusiawi jika menginginkan lebih, tapi manusiawi juga untuk mengindahkan hati nurani. Terlebih jika saya tidak tahu apa yang saya minta. Baik-tidaknya untuk saya jika permohonan itu dikabulkan, karena saya nggak tahu masa depan itu bagaimana bentuknya.

Pagi tadi saya kembali berhenti di tengah jalan saat saya meminta. Timbul rasa bersalah atas keinginan-keinginan masa lalu yang sudah diberi namun saya tidak cakap menerimanya. Dan akhirnya saya tutup doa saya dengan pasrah. “God, I don’t know what I want and ask for. I just live my life as the way it is.”

 

Advertisements

Special? Not The Moment, Yet, The Ones Whom I Be With

IMG_4292

Ulang tahun, hanya anak-anak yang menganggap momen ini istimewa. Tidak bagi orang yang sudah berkali-kali merayakannya, seperti saya misalnya. Saya nggak menganggap ulangtahun kemarin adalah sesuatu yang istimewa. Sumpah enggak, just another year older, itu bagi saya. Justru, sahabat-sahabat saya yang heboh tanggal 23 Februari lalu.

Dompet saya lagi pailit, saya harus jadi polisi yg rada jahat, mengatur lalu lintas keluar masuknya rupiah dari dompet saya. Kalau nggak perlu banget keluar, harus saya tilang, nggak boleh keluar dompet. Tapi, ada saja rupiah nakal yang berhasil mengelabui saya, entah itu mampir ke kasir XXI, atau ke warung rokok.

Teman-teman saya sudah tahu, kalau saya jadi di miskin selama satu tahun ke depan. Ini semua gara-gara Mikha, anak baru saya yang lahir dengan cicilan. Ah, sudah deh curhatnya.

Diawali dengan seminggu sebelum hari ulangtahun saya, saya lihat teman-teman saya memposting foto yang dibilang ‘niat’ dengan lokasi yang kece dan dandanan glamour. Saya sempat sebal, bagaimana bisa mereka mengacuhkan saya?  Padahal selama ini saya yang jadi fotografer jika ada niatan buat bikin foto glamour ala “gank Jompo”.  Ya sudah lah, mungkin mereka lagi pengen sendiri. Saya nggak niat protes.

Kekalutan saya terjawab, saat malam 23 ada sebuah video dari sahabat-sahabat saya dengan dandandan glamour persis foto yang diunggah di sosmed beberapa waktu lalu. Video berdurasi sekian detik, berisi ucapan selamat ulangtahun dengan potongan-potongan kertas dan huruf membentuk kalimat “Happy B’day Jo”. Gimana nggak bikin terharu coba?

Kisah selanjutnya, kami dalam formasi lengkap menghabiskan weekend di Bali. Meskipun dalam keadaan kere, tapi kami sangat bahagia.

Thanks to my fellas.

Dian, Dini, Ellen, Erning, Kenchoz, Ledy, Raymond, Theo.

Dan dari perjalanan di Bali, saya menemukan perenungan. Friends will always accept whatever we are. Bodoh, nerd, ngamukan, emosian, aneh, judes… They will have capability to adjust and adapt.