HUGO and CARLOS

Akhir-akhir ini saya sering mendapat pesan-pesan subliminal tentang anjing saya. Entah itu waktu jalan-jalan dan tanpa sengaja ngeliat bentukan serupa anjing, atau tumpukan tulisan “Hugo” – nama anjing saya- pada sebuah bacaaan. Awalnya saya nggak merasa, tapi makin lama makin sadar kalau semua citra dalam penglihatan saya itu menjurus pada objek “anjing” atau lebih tepatnya, Hugo.

Saya sudah pernah posting tentang sejarah anjing keluarga saya beberapa waktu lalu. Secara garis besar, masa kanak-kanan saya dan sodara saya selalu berjodoh dengan anjing. Pada waktu kecil, masing-masing anggota keluarga kami pernah punya satu anjing walaupun tidak pada saat yang bersamaan. Anjing yang berjodoh dengan masa kecil saya bernama Boy, saya menemukannya di semak-semak dengan luka-luka yang parah. Saya membawanya pulang dan keluarga kami resmi mengadopsinya.

Sampai pada suatu masa saya mandiri dan memutuskan untuk mengambil tanggungjawab yang lebih besar : memelihara anjing lagi.

Pada dua tahun pertama saya cuti traveling, karena saya tidak bisa meninggalkan kedua “anak” saya sendirian di rumah. Dan pada tahun-tahun berikutnya jika saya nekat traveling, saya harus cari orang untuk menjaga anjing saya. Bisa dibayangkan betapa sulitnya cari babysitter untuk anjing kan? Apalagi pada saat itu belum ada jasa penitipan anjing seperti sekarang ini. Kakak saya sudah super sibuk, dan tidak banyak teman saya yang “berani” berdekatan dengan anjing.. bahkan dengan seekor golden retriever yang super ramah sekalipun.

Sebagai pekerja kantoran, otomasti saya tidak berada di rumah dari pagi sampai sore. Saya hanya punya waktu sore sampai malam bersama “anak-anak” saya. Jelas ini tidak saya sia-siakan, mereka bebas berada di dalam rumah sepanjang malam. Untuk alasan kemanan, saat siang hari saya biarkan mereka di halaman. Ini demi keselamatan mereka dan property saya. Orang jahat akan berpikir dua kali jika hendak menyatroni rumah saya, sekaligus Hugo dan Carlos akan lebih aman berada diluar jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi – kebakaran, gempa, dll.

Kehidupan sosial saya dirampas secara tidak sengaja. Acara hangout hanya bisa dilakukan Sabtu sore dan itu nggak bisa sampai malam. Tapi saya biasanya mensiasati dengan mengundang teman-teman ke rumah saya pas weekend. Hugo dan Carlos senang banget kalo saya undang teman-teman saya ke rumah. Biasanya sih caper ke teman-teman saya dengan tiba-tiba duduk di dekat kaki salah satu teman sambil guling-guling.. Itu semacam kode permintaan untuk menggelitik perutnya.

Tapi biasanya saya yang susah begitu teman-teman saya pulang. Saya harus “ngobrol” sama “anak-anak” saya sebelum saya tidur… Kalo tidak mereka akan gelisah because suddenly the party is over. Ngobrol sama mereka itu sebenernya mangasyikkan, cuman butuh tenaga ekstra. Anjing adalah hewan yang komunikatif dan responsif. Mereka bisa menunjukkan beberapa mimik muka untuk menunjukkan emosi mereka. Misalnya Hugo, kalo dia tiba-tiba berdiri dan merendahkan kaki depannya sambil pasang mata yang bulat penuh lalu menggoyang-goyangkan ekornya, artinya dia minta main-main. Pasti sebentar lagi dia mensmackdown saya dan Carlos lalu guling-gulingan di kasur. Biasanya sih dia gigit-gigit saya setelah menubruk saya, dan tentunya saya gigit balik.. entah itu kupingnya, kakinya atau perutnya. 

Carlos lebih perasa untuk hal-hal yag sifatnya sentimentil. Dia itu ngerti kalo saya sedang sedih, dia tidak pernah jauh dari saya dan pembawaannya jadi lebih tenang.

Ah, I really missed the moment with them. Saya kangen bau perut puppy yang usianya masih mingguan. Saya kangen panggil nama mereka. Saya kangen baca buku sambil ngelus-gelus bulu mereka. Saya kangen smackdown sama mereka. Saya kangen hujan-hujanan sama mereka. Saya kangen mandiin mereka. Saya kangen jalan-jalan pagi sama mereka.

Semoga saya bisa mengulangnya lagi, someday…

 

Advertisements

Over, will always dire….

Kalo orang awam bilang ini nurani, ada yang bilang hati kecil, ada juga yang bilang malaikat penjaga..

The purest spirit, masing-masing orang pasti memilikinya. Maling sandal, Al Pacino, mother Theresa, Mahatma Ghandi, atau bahkan Sang Sidharta Gautama sekalipun. Seringkali manusia menganggap apa yang dikatakan oleh pure spirit ini yang paling benar.

Kehadirannya tidak bisa dikontrol. Saat terjadi perang batin, manusia merenung, berdiam diri mencari jawaban dari hati nurani. Tapi seringkali pula saat diharapkan suaranya, hati nurani bungkam. Sebaliknya saat yang tidak dinyana-nyana dalam kondisi yang tidak diharapkan, tiba-tiba nurani muncul, meracau seenak jidatnya nunjukin mana yang benar mana yang salah.

Beberapa bulan ini entah kenapa saya suka tebar-tebar pesona tanpa saya sadari, hm.. mungkin saya masih dalam fase siap untuk jatuh cinta, seperti keadaan yang saya tulis dalam tulisan sebelumnya. Dan, kemaren petang saya mendapat message dari orang yang saya suka. Selama ini kami hanya ngobrol lewat jejaring sosial dan sekenanya saja. Tapi message kemaren itu sepertinya lampu hijau, menurut otak saya. Pastinya saya senang dan segera membalas messagenya dengan euforia tingkat dewa.

Tiba-tiba si kampret – siapa lagi kalau bukan nurani – tiba-tiba nyeletuk dengan santai “don’t be over, boy… slow down” Dan gleg, saya langsung terdiam. Euforia seketika amblas. Sebenarnya, saya bisa saja sih mengabaikannya dan tetap mengikuti perasaan senang yang meluap-luap… Tapi akhirnya saya lebih memilih untuk menuruti si Nurani ini. Saya menghapus rentetan kalimat balasan yang membual-bual dan menggantinya dengan satu-dua kalimat santun yang biasa saja.

Memang sih sedih banget membunuh rasa gembira itu dan menggantinya dengan perasaan datar, tapi dari pengalaman yang terbahulu… Nurani ini sakti.. dia tau mana yang benar dan baik buat saya.

-End-

Image