Picture of Me

Bukan bermaksud narsis dan kepedean tapi tulisan ini berdasarkan celetukan-celetukan yang keluar dari mulut orang-orang terdekat saya atau pun yang sering bertemu dengan saya. Yang kemudian saya refleksikan saat menikmati suara hujan di pembaringan saya yang sejuk.

 

~ Will be a good father.

Kalimat ini pertama kali saya dengar dari Swastika, guru PlayGroup. Waktu itu saya sedang bertandang ke kelas PlayGroup pada saat anak-anak sedang mendengarkan cerita. Waktu saya masuk, entah aura apa yang ada pada saya, anak-anak itu segera berhamburan mendekati saya dan meninggalkan gurunya yang sedang bercerita.

Anak-anak kecil tadi mulai menyodorkan buku pada saya untuk dibacakan. Somehow, kegiatan kelas berubah jadi peer to peer learning. Karena dianggap biang kerok buyarnya kelas, saya juga mendapat bagian membacakan buku cerita untuk beberapa anak.

Setelah sesi selesai dan anak-anak mendapatkan giliran untuk dibacakan ceritanya, tiba-tiba si guru tadi bilang, “Wah, sudah pantes Mr. Jo.. tadi sudah luwes banget jadi seorang bapak”. Saya cuman nyengir…

Image

Kejadian kedua, waktu saya menggendong Lorenzo, murid toddler yang baru bisa jalan dan bicara. Saya nggak tau kalau ada yang memperhatikan saya, it was Meng-meng konco plek saya yang tiba2 nyeletuk “That was the sweetest thing I see about you”. Maksudnya? Tentu saja gesture saya sebagaii bapak waktu menggendong Lorenzo.

Ya awoh, apakah saya sudah seperti Bapak-bapak?

 

~ Will be a good lover

Agak malu ngomongnya, tapi ini keluar dari mulut mantan-mantan saya yang notabene meninggalkan saya.. Deim! Dalam sejarah percintaan saya (mohon sedia kresek muntah)saya selalu punya passion yang berlebihan untuk pasangan saya. Selama pedekate, trus bulan pertama pacaran sampai bertahun-tahun kemudian saya masih saja mempunyai level passion yang tinggi. Para mantan saya bisa melihat itu di mata saya. 

Image

Trus kenapa mereka meninggalkan saya? Hm, memangnya bisa hidup hanya dengan cinta yang ngga pernah habis mas? Mereka juga butuh pasangan yang sabar, tidak cemburuan, tidak posesif, gak galak, punya konsep jelas tentang masa depan, serius. eh… kok mengumbar aib..

Ah sudahlah… ini cuman ilusi setelah makan siang… daripada ditahan bikin jerawat, lebih baik dituangkan lewat tulisan.

 

 

Advertisements

Hujan dan Segala Dramaku

Menanti derumu di akhir April sungguh sangat menyiksa. Dahulu, di akhir Maret aku bisa membaca hadirmu, lewat angin yang mendadak memburu di tengah malam dan gumpalan awan yang berarak ke selatan.. aku tahu engkau akan datang segera. Namun akhir-akhir ini, manusia-manusia ceroboh dan rakus membuatmu datang tak sesuai jadwal. Kadang lebih cepat, kadan sangat terlambat..

Tahun ini aku berharap kamu datang lebih cepat, dan doaku terkabul.. aku pun menyambutmu dengan gempita. Tak hanya aku, tanah pun dengan serta merta menyongsongmu dengan aroma yang memabukkan.. perkawinanmu dengan tanah memperanakkan candu yang hanya bisa dinikmati saat pergantian musim. Petrichor…

Tetesmu menyaksikan segala kegundahan hati yang tak terobati. Memaknai setiap rindu pada usai hadirmu. Rindu akan ratusan kenangan yang manis, juga tragedi yang dramatis.

Dia, yang kurindukan tidak suka saat kamu berhenti. Jalanan basah, jejak yang kau tinggalkan untuk kota ini membuatnya resah. Dia tidak tahu, aku juga tidak tahu apa yang membuatnya resah. Hanya peluk yang bisa membuatnya berhenti menatap sisa-sisa penandamu.

Kampus psikologi, pohon cemara, dan hujan. Kombinasi yang ganjil, lalu kita menggenapkannya.

Pinggiran kota Surabaya, rumah baruku, rumah barumu, beranda belakang, warung mie ayam… dan hujan, lalu membuat kita semakin erat.

Kabut, beranda, rumah kayu, selimut tebal, gerimis, hujan, senja, lumut, berdua… lalu lahirlah Abimanyu, Jerikho, Angger, Retnaputri, Izam, sederetan nama untuk calon anak kita.

Tapi pernah aku mengutuk hujan… untuk kisah yang tak layak kusebutkan. Bandung, 2008. Hujan membuat kita berkhianat. Lelakimu, perempuanku, telinga yang tak sabar, membuat kita jadi bajingan… dan hujan.

Namun hujan juga yang membuat kita selalu bertemu… fuck you!

Image

Sisa Cerita Ulang Tahun

Baiklah.. ada sedikit cerita yang masih tersisa di ulangtahun kemaren. Saya punya dua ibu, don’t get it wrong.. bukan berarti bapak saya berpoligami atau ibu saya kembar siam. Tapi ibu kandung dan ibu angkat.

Ibu kandung saya bernama Susy, wanita tangguh yang menjadi guru saya semenjak saya lahir dan menginjak remaja. Namun sayang, beliau pulang duluan waktu saya SMA.

Beliau ini perancang baju nomer wahid. Pernah suatu kali beliau nonton acara yg mengulas tentang Lady Diana di TV sambil membawa pensil dan secarik kertas. Dan beberapa waktu kemudian beliau sudah memakai baju ala Lady Diana ke suatu acara. Beliau sangat modis dan hobi mengumpulkan sepatu, salah satunya adalah sepatu Maruchu yg lebih dikenal sbg wedges jaman sekarang.  Sayangnya beliau tidak bisa menularkan jiwa modisnya ke orang lain. Saya bilang modisnya egois. Beliau tidak bisa menyarankan orang lain itu bagusnya pakai apa, termasuk pada kakak perempuan saya yg sangat ndeso kalo pake baju. 

Dari beliau, sifat yg suka kluyuran diwariskan pada saya. Ibu saya sudah menjelajah jawa pada saat itu yg transportasinya masih acakadul. Saya dengar cerita tentang Waduk Sempor, Gajah Mungkur dan Cilacap dari beliau… dan sampai sekarang saya masih belum pernah menginjakkan kaki kesana.

Ibu angkat saya bernama Elizabeth, dia warga negara Australia. Saya mulai dianggap anak sejak tahun 2002, so it’s been sudah sepuluh tahun. Dari beliau saya belajar tentang hidup sebagai manusia dewasa. Cara pandang tentang hidup, pilihan dan segala konsekuensinya. Beliau juga mengajari bagaimana saya harus bersikap pada diri saya dan memelihara hati dan jiwa. Saya suka dengan cara pandangnya tentang hidup. Beliau juga yang membuat saya segera merampungkan kuliah, menyelamatkan saya dari jurang DO. Beliau juga yang memberi pilihan-pilihan waktu saya putus dengan bajingan sunda dan menghidupi konsekuensi yang saya ambil… sampai sekarang.

Jika saya boleh ambil kesimpulan, ibu Susi adalah pembentuk watak saya dan ibu Elizabeth adalah pembentuk cara pandang saya.

Uang tahun.

Ibu Susi tidak suka dengan hal yang sentimentil dan protokoler. Jadi selama saya ulang tahun, saya tidak pernah sekalipun merayakannya. Kedua kakak saya pun tidak pernah merayakan ulang tahun. Hanya doa bersama mengucapkan syukur pada Tuhan atas setahun penyertaanNya.

Lain dengan ibu Elizabeth yang sentimentil dan suka pada hal-hal yang detail. Selama sepuluh tahun ini beliau tidak pernah absen menelpon saya bahkan sewaktu beliau di Jerman, di NZ, atau di China beliau susah payah cari telpon satelit demi suara yg jernih. Sewaktu beliau tinggal di Indonesia, beberapa kali saya merayakan ulang tahun bersama. Kebetulan putri kandungnya juga berbintang sama dengan saya.. hanya berjarak 2 minggu. Biasanya sih makan di hotel yang belum pernah saya datangi. Dulu pernah sekali saya minta merayakan di salah satu pub… tapi dasarnya sama emak-emak, beliau nggak suka dan nggak mau party all night long 😦

Btw, ibu angkat ini rada aneh.. selain telpon beliau juga kirim e-card… haish… 

Image

Kenapa Obat Paten Harganya Mahal?

obat

 

Tulisan ini seharusnya ditulis oleh teman saya yang mantan Medical Representatif… Tapi berhubung beliaunya adem ayem saja, baiklah saya mau menulis tentang topik ini.

Lagi-lagi saya harus minta maaf di awal, pada para dokter idealis, yang bekerja tulus dan penuh dignitas, yang jumlahnya hanya segelintir saja di Indonesia.

Saya menulis ini bukan untuk memojokkan profesi tertentu, tapi mencoba untuk berbagi wawasan baru yang saya dapat dan berharap tulisan ini bisa bermanfaat. Saya minta maaf jika ada pihak yang tersinggung dengan tulisan saya ini. Informasi yang saya dapat dari teman MR saya sudah saya konfirmasikan dengan teman saya (yang kebetulan seorang dokter yang sedang berjuang memperoleh gelar spesialis bedah urologi) serta pengalaman pribadi.

Berawal dari cerita2 tentang pekerjaan terdahulu, teman saya -seorang muslimah yang taat- bercerita tentang pekerjaannya sebagai detailer obat/ medical representative untuk perusahaan farmasi “X”. Dia bertugas beberapa bulan di Bali dan setiap hari dia berkeliling rumah sakit untuk menjajakan obatnya. Seperti pada umumnya pekerjaan sales, dia juga dituntut untuk memenuhi target penjualan.

Sudah menjadi rahasia umum (tapi saya baru tau) jika ada hubungan simbiosis mutualisme antara dokter dengan pabrik farmasi. Celakanya hubungan saling menguntungkan ini tumbalnya adalah pasien dan keluarganya. Jika si dokter mau “memakai” obat yang diproduksi oleh pabrik “X” maka dokter tersebut sudah dipastikan bakal mendapat “benefit”. Besarnya benefit tergantung dari tawar menawar antara si bos dengan ujung tombak pabrik farmasi, yakni MR. Yang saya dengar, benefit itu bisa berwujud insentif sekian persen dari penjualan obat, berlibur gratis (dalam dan luar negeri), seminar gratis, bahkan mobil dan rumah.a

Sebaliknya, dengan bersedianya si dokter memakai obat yang ditawarkan si MR, otomatis obat yang dijual MR laku dan target bisa penjualan bisa dicapai sehingga si MR juga dapat bonus. Tentu saja simbiosis ini bersifat proporsional.. Dokter yang sekolahnya habis duit banyak tentu saja mendapat bagian lebih besar, sedangkan MR yang hanya S1 (atau kadang lulusan SMA) pasti dapat porsi lebih sedikit.

Sebagai produsen yang mewakili pihak kapitalis, tentu saja mereka menginginkan grafik penjualan terus merangkak naik. Persaingan yang ketat antar kapitalis menambah runyam suasana. Sang kapitalis tidak peduli jurus apa yang dilakukan oleh pion-pion caturnya untuk maju berperang menjajakan obat. Akibatnya persaingan antar sales juga makin menjadi, mengikis akal sehat dan nurani para sales ini.

Perang bonus, dominasi, dan monopoli. Semuanya menjadi budak uang. Sang dokter hanya mau meresepkan satu obat saja diantara ratusan alternatif obat yang bisa dipakai. Berapa kali kita mendengar si dokter menolak untuk mengganti obat pada saat petugas apotek mengkonsultasikan alternatif obat lain karena stok obat yang diresepkan oleh sang dokter sedang kosong? Dokter sudah kepincut dengan iming-iming benefit dan fasilitas yang ditawarkan oleh perusahaan farmasi tertentu. Mengganti merek obat sama dengan mengurangi omzet penjualan yang berdampak pada mengecilnya insentif/ fasilitas yang nanti bakal diterimanya. Dominasi oleh dokter sangat kentara.

Ada juga cerita menarik, sewaktu dia berurusan dengan satu-satunya ahli bedah (kalau tidak salah ahli bedah syaraf) di Bali, karena dia satu-satunya dokler bedah di situ tentu saja dia menjadi raja kecil di dunia medis, dia berhak menentukan obat apa yang dipakai. Otomatis para produsen obat berlomba-lomba untuk memenangkan hati si dokter itu. Pernah suatu kali dia meminta komisi yang lebih besar (sebesar 40% dari harga obat) setelah gagal nego dengan teman saya yang MR, si dokter dengan sangat tidak sopan melecehkan si MR, teman saya. ”Aku gak mau berurusan sama kamu… kamu itu apa… bukan kelas saya… aku mau ketemu sama atasanmu”. Sampai suatu kali ada dokter bedah baru yang praktek di Bali, tentu saja si dokter lama kebakaran jenggot, monopolinya berakhir.

Pernah suatu kali teman saya berada di rumah sakit dan melihat pasien yang sedang anfal… dan dia dengan sukacita berkata dalam hati “Wah.. pasien ini pasti ditangani dokter X, dia kan pakai obatku. Tembus deh target”. Entah setan apa yang merasukinya, bukannya berdoa untuk si sakit (ato paling nggak simpati) tapi malah memikirkan bonus dan target.

Lalu bagaimana dengan pasien? Hahahah… tentu saja pasien dan keluarganya menjadi ladang emas bagi dua profesi di atas. Banyak dokter berdalih hanya menjual obat mahal ke pasien kaya (mahal karena minimal 20% insentif untuk dokter dibebankan pada harga obat). Ini konyol, it’s a pathetic excuse. Meskipun pasien kaya ataupun dicover asuransi, jika sudah masuk ke ranah kesehatan, duit itu tidak berarti. Pasien seharusnya diperlakukan sama. Pasien adalah korban yang seharusnya mendapat perlakuan adil dan jujur, bukan sebagai sapi perahan bagi segelintir profesi. Memang tidak semua dokter begitu, ada yang jujur dan berlaku adil. Tapi itu jaman dulu, atau kalau ada mereka yang dokter umum dan hidup di desa.

Cerita saya pribadi, suatu kali saya pernah bermasalah dengan kesehatan dan dokter internis merujuk saya untuk melakukan USG di sebuah laboratorium yang sudah ditunjuk. Sewaktu hasil sudah ada, saya kembali berkonsultasi dengan dokter tersebut. Pertama yang dilihat adalah sampul amplop hasil USG yang berbeda dengan lab yang dia tunjuk sebelumnya. Dia mengkerutkan dahinya, lalu membaca sekilas dan meminta saya untuk USG ulang di laboratorium yang ditunjuknya dengan alasan hasil lab yang saya bawa tidak akurat. Saya pulang dan langsung pindah dokter.

Saya hanya bisa berpesan untuk pasien, jadilah pasien yang cermat. Jangan takut untuk bertanya dan meminta alternatif baik obat ataupun metode pengobatan. Bagi profesi di atas, mulailah berpikir untuk mendapat kesejahteraan akhirat kelak, bukan hanya memburu kesejahteraan duniawi yang berasal dari penderitaan orang lain.