Keeping My Head Straight

800xNxcrude-pop-art.jpeg.pagespeed.ic.VeYkMPPPrT4958dZ_6HB

Weekend barusan saya habiskan main sama Alvin, replika Ricky kw sekian. Dia nggak pulang kampung karena bokek, jadi sebagai teman yang baik saya wajib menemaninya. Er… gak gitu juga kali, yang ada saya malah memperalatnya untuk menemani saya karena hati saya sedang sangat kacau karena balon hijau meletus. Ah, taik.

Beberapa hari sebelumnya ada komunikasi yang seru sama bebeb, pada intinya dia bilang “Seberapa pun sayangnya (saya ke dia), you should not let your head ruined.” Jadi, akhir pekan ini saya putuskan untuk cari kegiatan biar kepala saya tetap waras. Pertama, saya benturin kepala ke tembok. Ke dua, saya main smackdown sama Alvin, ke tiga saya pake koyo di pelipis kepala. Tapi berhubung ke tiga cara tersebut nggak berhasil, maka saya cari cara lain.

Mulai jumat malam saya boyongan ke kamar Alvin. Bantal, selimut, laptop, HP, charger, keyboard, dan baygon. Mulailah kita ngobrol-ngobrol masalah kerjaan, traveling, cewek, bokep, dan Mbak Dian. Saya diajarin Sumprit, permainan kartu remi ala daerah dan saya ajari dia ngedit foto pake photoshop. Hingga larut malam kami berdua cekikian dan akhirnya kita berdua tertidur di atas tempat tidur yang berantakan; laptop jadi bantal, kartu remi jadi sprei dan sebaganya dan sebagainya.

Jam 9 pagi (siang apa pagi ya?) baru bangun. Mukani udah bikin kopi buat saya tapi Alvin nggak dibikinin padahal Mukani tau saya lagi sama Alvin. Secara Mukani takut sama saya, jadi saya suruh si Mukani bikin satu lagi buat Alvin. Kali ini Alvin yang malah ketakutan sama Mukani. Hahhahah, entahlah mungkin kopinya si Alvin dikasih arsenik saya nggak tau, yang pasti Mukani rada nggak suka karena saya suruh bikin kopi buat Alvin. Setelah kopi siap, sesi rasan-rasan pun dimulai. Kami melanjutkan pembahasan fakta tentang mbak Dian. Setelah agak siangan, saya ajak Alvin makan di warung pecel milik teman komunitas lari saya.

Alvin pengen nonton Hotel Transylvania 2, kebetulan saya punya BCA jadi kami memanfaatkan buy one get 1 freenya BCA buat nonton itu. Sementara nunggu film main, saya sama Alvin main ke Gramedia. Saya nemu bukunya Ayu Utami “Menulis dan Berpikir Kreatif cara Spiritualisme Kritis”. Entah kenapa saya langsung suka sama buku ini, saya berpikir ini waktunya saya belajar menulis lagi dengan cara yang benar. Saya text bebeb, nunjukin bukunya. Dalam hati saya bilang, “Saya pengen bisa nulis sebagus kamu, Beb”.

Sedangkan Alvin? Dia beli buku latihan mengingat seperti gajah. Well, dan saya pun jadi kelinci percobaannya di sisa hari yang ada selama weekend.

Selesai nonton, saya sama Alvin makan Mie Jogja. Penggennya sih texting Mbak Dian biar ikut gabung, tapi jangan ah. Nanti brondongku habis diterkam, ha ha ha ha ha ha. Selesai makan, saya ajak Alvin ke Loppstation di jl. Raya Darmo. Alvin kayak kesetanan main X-Box sampe badannya basah semua. (Saya sebenarnya juga kesetanan sih main X-Boxnya, tapi biar saya imejnya bagus jadi saya nggak tulis di sini). Trus main foosball sebentar, dengan skor 2-0, dan akhirnya main di cafenya sambil nunggu keringat menguap.

Setelah malam agak larut, salah satu teman Alvin nyamperin dan kita diajak ke cafe Rolag. Dalam perjalanan si Alvin ngomel-ngomel “Mas, kalau cafenya alay kita pergi aja ya” Dalam hati saya bilang, hm.. I’ve created a monster. Alvin udah pilih-pilih tempat nongkrong sekarang. Dan, ternyata memang bener. Tempatnya saya gak suka karena terlalu ramai dan alay. Tapi saya ngotot stay. Saya malah nimbrung sama teman-teman Alvin dan ngobrol sampai malam. Tujuan saya sih, saya pengen Alvin nggak milih-milih tempat nongkrong meskipun sekarang udah tau tempat-tempat bagus di Surabaya. Down to earth lah lebih tepatnya.

Hari miinggu kami habiskan untuk diam di kamar. Saya dibuat jadi kelinci percobaan lagi oleh Alvin dengan buku barunya cara mengingat seperti gajah. Main PS. Nyanyi-nyanyi. Main PS lagi. Saya ketiduran, Alvin lihat youtube. Saya bangun, Alvin ketiduran. Saya main COC, Alvin masih tidur. Hingga menjelang sore, saya bangunkan dia buat mandi dan sholat. Sedangkan saya pergi ke gereja.

Sepulang dari gereja, saya bawa bakso buat mengganjal perut karena seharian tadi kami cuman sarapan nasi pecel dan melewatkan makan siang karena malas keluar. Sambil makan bakso, kami nonton film yang mengiris-iris hati berjudul “If I Stay” sampai selesai. Tiba waktunya makan malam dan saya pengen calamary, tapi entah kenapa malam itu kami berbelok ke tempat makan dimsum.

It was fun way to keep my head straight during the weekend. Akhir pekan kali ini saya habiskan bersama si Ricky kw. Bedanya kalo sama Ricky asli pasti ada sesi nggondok, ngamuk, dan berantemnya. Tapi kalo sama Alvin enggak, tapi gpp sih biar pun nggak seseru Ricky, Alvin cukup bisa mengimbangi cara saya having fun.

Note, (Nggak usah dibaca)

Sebenernya sih aku nggak suka nulis-nulis gini di blog. Pengennya langsung cerita via telpon ke kamu about everything I did. Tapi ya sudah lah….

Advertisements

Lunatic

ebef934dbae1179d96237815a718d698

Beberapa hari ini gw ngerasa ada yang aneh sama diri gw. Kira-kira seminggu yang lalu mulainya. Kalau malam tiba, gw demam tinggi, badan gw sakit semua, seluruh persendian ngilu dan rasanya lemes banget. Ditambah lagi rasa gelisah bukan main. Rasa lapar tiba-tiba menyerang tapi anehnya kalo lihat nasi goreng atau makanan lain gw nggak selera. Gw juga perhatikan rambut-rambut yang tumbuh di seluruh tubuh gw rasa makin banyak dan gampang banget panjangnya. Puncaknya dua hari yang lalu, gw kesakitan setengah mampus dan suhu badan gw naik drastis, padahal siang harinya gw sehat-sehat saja. Mata gw juga jadi agak kemerah-merahan, dan rahang gw sakitnya minta ampun. Gw pengen bangunin temen gw buat anterin ke dokter. Tapi waktu gw ketok pintu kamarnya, gak satu pun yang keluar kamar.

Akhirnya gw pergi keluar untuk ke rumah sakit terdekat. Gw coba keluarin motor tapi kok rasanya nggak mampu. Gw tertatih-tatih keluar garasi dan mencoba membuka pintu pagar. Gw ngeliat ke langit yang terang, padahal ini sudah dini hari. Gw baru ingat kalau malam itu, tanggal 28 September 2015, dini hari. Gw ketakuran setengah mati karena itu adalah blood moon. Gw lihat kuku gw mulai berubah menjadi cakar, rambut tumbuh semakin lebat, dan gw mulai melolong….

Er… maaf, saya tadi berkhayal seandainya saya jadi Jacob Black pas terjadi Blood Moon.

(Rewind)… oke mari kita mulai lagi yang bener.

Di kantor lagi rame membicarakan blood moon dan fenomenanya. Blood moon adalah peristiwa alam yang terjadi selama 32 tahun sekali. Jadi kemaren adalah peristiwa luar biasa bagi generasi 80an untuk mengulang masa kecilnya dan bernostalgia. Entah benar atau tidak apa yang kami bicarakan selanjutnya, diskusi berlanjut pada peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan bulan dan aktifitasnya. Termasuk kenapa ada kata lunatic, datang bulan, dan sebagainya.

Saya masih meragukan apakah memang bulan mempengaruhi perilaku manusia. Memang masih bisa masuk logika jika dihubungkan antara gravitasi bulan yang mempengaruhi permukaan air, secara 80% tubuh kita terdiri dari air. Tapi korelasinya dengan perubahan perilaku kita dikarenakan air yang ada di dalam tubuh kita ngumpul di ubun-ubun masih belum jelas buat saya. Anyone?

Tapi ada yang aneh dengan diri saya dua hari ini. Saya tanpa sengaja nemu gambar internet, golden hour, beberapa saat setelah matahari terbenam. Sumpah saya jadi galau dan melow. Saya jadi dependen banget sama orang yang saya sayang dan pengen ndusel seketika, (tapi apa daya orangnya jauh disana). Jadi selama saya melow dan galau saya mulai buka laptop saya dan mulai curhat perasaan yang saya alami dan keinginan-keinginan saya saat itu. Tapi karena saya takut dibilang cemen, curhatan saya itu berubah jadi tulisan fiksi, sebuah cerita pendek. Hahahahhahaha… taik kan?

Saya masih memikirkan pembicaraan kami beberapa waktu lalu, pada intinya, dia bilang, perasaan saya padanya jangan sampai membuat kepala saya miring. Hehehhe… bisa jadi kejadian melow yelow kemaren bukan karena blood moon atau pengaruh ngumpulnya air di ubun-ubun gegara gravitasi bulan, tapi memang saya lagi miring dari memang dari sononya udah miring. A Lunatic.